Pendukung : DUNIA NASIONAL DAERAH INSPIRASI ISLAM KIRIMAN ANDA

Home | | Inilah Fakta Tenaga Kerja Migas

Inilah Fakta Tenaga Kerja Migas

Written By tajuk riau on Sabtu, 08 Juni 2013 | 08.54

Kehadiran perusahaan asal luar negeri di industri migas seringkali dikait-kaitkan dengan penguasaan pihak asing, tak terkecuali masalah ketenagakerjaan. Tudingannya: tidak pro tenaga kerja nasional karena didominasi tenaga kerja asing.  
Industri hulu migas, yang memiliki aktivitas utama untuk mencari dan memproduksi minyak dan gas bumi, beroperasi di Indonesia berdasarkan Kontrak Bagi Hasil atau Production Sharing Contract (PSC). Menurut kontrak ini, pemilik proyek migas adalah negara Republik Indonesia. Perusahaan seperti Pertamina EP, Chevron, ConocoPhillips, Exxon, Medco, Total Indonesie, British Petroleum, PetroChina, dan Kalila hanya bertindak sebagai kontraktor yang mengoperasikan proyek negara tersebut. Mereka disebut sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Karena proyek hulu migas adalah milik negara, maka semua program kerja kontraktor harus mendapat persetujuan dari pemerintah yang diwakili Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Persetujuan SKK Migas juga diperlukan untuk rencana penggunaan tenaga kerja dalam menunjang operasional industri hulu migas, baik itu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun Tenaga Kerja Asing (TKA). Seluruh Rencana Penggunaan Tenaga Kerja (RPTK) dari KKKS wajib mendapatkan persetujuan dari SKK Migas.
Penggunaan tenaga kerja harus mengutamakan prinsip-prinsip efisiensi dan mengutamakan tenaga kerja nasional. SKK Migas membuat aturan yang ketat terkait pengunaan TKA oleh para KKKS. Penggunaan TKA dibatasi hanya pada disiplin di mana keahlian TKI masih terbatas atau sebagai perwakilan investor (leadership). Selain itu, TKA disyaratkan memiliki minimum 10 tahun pengalaman.
Dalam industri hulu migas, pengurusan Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) dan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) juga mensyaratkan adanya rekomendasi dari SKK Migas tersebut. Pendek kata, KKKS tidak bisa sembarangan mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri meski yang bersangkutan merupakan karyawan dari kantor pusat KKKS.
Penggunaan TKI di industri hulu migas nasional terus menunjukkan tren peningkatan sejalan dengan bertambahnya jumlah KKKS yang beroperasi. Secara rata-rata, jumlah kenaikan TKI mencapai 1.070 orang per tahun, sedangkan kenaikan TKA rata-rata hanya 13 orang per tahun.
Berdasarkan data tahun 2008 hingga sekarang, komposisi penggunaan TKI dapat dipertahankan pada angka rata-rata 96 persen dari total tenaga kerja industri hulu migas di Indonesia. Operasi Chevron di Indonesia, misalnya, mengandalkan kemampuan dan keahlian tenaga kerja nasional yang berjumlah sekitar 98 persen dari total seluruh karyawannya di Indonesia.
Sampai tahun 2012, jumlah TKI di industri hulu migas sudah mencapai sekitar 25.000 orang. Itu belum termasuk karyawan-karyawan dari perusahaan mitra kerja yang memberikan jasa-jasa pendukung terhadap KKKS. (Sumber: SKK Migas)
Share this post :

komentar masuk : 0

Poskan Komentar

Loading...

Konferensi Islam Peradaban Riau RTV

 
Support : Melayu Bersyariah |
Copyright © 2014. Tajuk Riau - All Rights Reserved
Template modify by RumahIT Template by Creating Website
Proudly powered by Blogger